Doa Masuk WC

Gambar Doa Masuk Wc

Kumpulan doa-doa seputar Wc √ Doa Masuk Wc √ Doa Keluar Wc √ Adab-adab memasuki Wc √ Pentingnya Berdoa Sebelum Masuk Wc

Kamar mandi atau WC adalah tempat paling najis di muka bumi, kenapa ? Karena di tempat ini lah rumah atau tempat berkumpulnnya para jin.

Rasulullah Shallalahu ‘alahi wassalam bersabda “Sesungguhnya tempat buang hajat ini dihadiri (oleh setan), jika salah seorang dari kalian hendak masuk kamar mandi (WC),” (HR. Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, Ibnu Majah).

Atau juga bisa kita ambil dari hadist sahabat yang mulia Zaid bin Arqam radhiyallahu anhu Rasulullah Shallalahu ‘alahi wassalam bersabda ”Sesungguhnya tempat-tempat buang hajat ini dihadiri (oleh para setan), maka jika salah seorang dari kalian hendak masuk kamar mandi (WC), ucapkanlah “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari setan laki-laki dan setan perempuan.”

HR. Ahmad (4/373), Ibnu Majah (296), Ibnu Hibban ( 1406), Al Hakim (1/187)

Maka dari itu kita di ajarkan untuk senantiasa berdoa ketika hendak masuk kedalam toilet atau Wc, doa masuk wc sebagaimana yang mashyur adalah :

Doa Masuk WC/Kamar Mandi

(بِسْمِ اللَّهِ) اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ

(Bismillaah) Allaahumma innii a’uudzu bika minal khubutsi wal khobaa-its.

Dengan nama Allah. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari godaan setan laki-laki dan perempuan.

HR. Al-Bukhari 1/45 dan Muslim 1/283. Sedang tambahan bismillaah pada permulaan hadits, menurut riwayat Said bin Manshur. Lihat Fathul Baari 1/244.

Doa Keluar WC/Kamar Mandi

غُفْرَانَكَ

Ghufroonak.

Aku minta ampun kepadaMu.

HR. Seluruh penyusun kitab Sunan, kecuali An-Nasai yang meriwayatkan dalam ‘Amalul Yaumi wal Lailah, lihat Takhrij Zaadul Ma’aad 2/387.

Ketika kita hendak masuk ke Wc juga ada beberapa adab yang perlu kita perhatikan, mengapa ?

Hal ini jelas kita lakukan mengingat wc adalah tempat yang najis dan juga tempat para jin maka dari itu hendaklah kita memperhatikan beberapa adab memasuki wc atau ingin membuang hajat berikut ini.

Adab Masuk Wc / Buang Hajat

1. Menjauh dari Manusia 

Hal ini perlu kita lakukan mengingat membuang hajat adalah sesuatu yang privasi dan hal ini juga pernah dicontohkan oleh rasulullah Shallalahu ‘alahi wassalam melihat dari hadist yang di riwayatkan oleh Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِصلى الله عليه وسلمفِى سَفَرٍ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِصلى الله عليه وسلملاَ يَأْتِى الْبَرَازَ حَتَّى يَتَغَيَّبَ فَلاَ يُرَى.

Kami pernah keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika safar, beliau tidak menunaikan hajatnya di daerah terbuka, namun beliau pergi ke tempat yang jauh sampai tidak nampak dan tidak terlihat.

HR. Ibnu Majah no. 335. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

2. Tidak Membawa Mushaf atau yang beruliskan Allah

Hal ini sering banget dilalaikan, kenapa ? Karena kita terkadang suka mamakai cincin yang bertuliskan allah atau semacamnnya dan kadang kita lupa untuk melepasnya ketika hendak masuk ke wc, maka dari itu hal ini perlu sekali untuk diperhatikan.

Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman :

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al Hajj: 32)

dan hal ini juga pernah diriwayatkan oleh Anas bin Malik, beliau mengatakan :

كَانَ النَّبِىُّصلى الله عليه وسلمإِذَا دَخَلَ الْخَلاَءَ وَضَعَ خَاتَمَهُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki kamar mandi, beliau meletakkan cincinnya.”

HR. Abu Daud no. 19 dan Ibnu Majah no. 303. Abu Daud mengatakan bahwa hadits ini munkar. Syaikh Al Abani juga mengatakan bahwa hadits ini munkar.

Hadits ini adalah hadits munkar yang diingkari oleh banyak ahli hadits. Namun memang cincin beliau betul bertuliskan “Muhammad Rasulullah” HR. Bukhari no. 5872 dan Muslim no. 2092

Syaikh Abu Malik hafizhohullah beliau menagtakan, “Jika cincin atau semacam itu dalam keadaan tertutup atau dimasukkan ke dalam saku atau tempat lainnya, maka boleh barang tersebut dimasukkan ke WC.

Sedangkan Imam Ahmad bin Hambal mengatakan, “Jika ia mau, ia boleh memasukkan barang tersebut dalam genggaman tangannya.” Apabila ia takut barang tersebut hilang karena diletakkan di luar, maka boleh masuk ke dalam kamar mandi dengan barang tersebut dengan alasan kondisi darurat.” Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, 1/92, Al Maktabah At Taufiqiyah

3. Membaca Basmalah atau Doa

Membaca doa ketika ingin masuk ataupun keluar dari wc, doannya seperti apa ? Doannya seperti yang sudah di ajarkan di atas yaitu mengenai doa masuk wc dan doa keluar wc.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

سَتْرُ مَا بَيْنَ أَعْيُنِ الْجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِى آدَمَ إِذَا دَخَلَ أَحَدُهُمُ الْخَلاَءَ أَنْ يَقُولَ بِسْمِ اللَّهِ

Penghalang antara pandangan jin dan aurat manusia adalah jika salah seorang di antara mereka memasuki tempat buang hajat, lalu ia ucapkan “Bismillah”. HR. Tirmidzi no. 606, dari ‘Ali bin Abi Tholib. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan,

كَانَ النَّبِىُّصلى الله عليه وسلمإِذَا دَخَلَ الْخَلاَءَ قَالَ « اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ »

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika memasuki jamban, beliau ucapkan: Allahumma inni a’udzu bika minal khubutsi wal khobaits

(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan.)

Pengertian setan laki-laki dan setan perempuan sebagaimana dikatakan oleh Al Imam Abu Sulaiman Al Khottobi. Lihat Al Minjah Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, 4/71, Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, 1392. & HR. Bukhari no. 142 dan Muslim no. 375

Imam An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Adab membaca doa semacam ini tidak dibedakan apabila membuang air atau memasuki wc yang berada di dalam bangunan atau luar bangunan.” Al Minjah Syarh Shahih Muslim, 4/71.

Untuk do’a “Allahumma inni a’udzu bika minal khubutsi wal khobaitsboleh juga dibaca Allahumma inni a’udzu bika minal khubtsi wal khobaits (denga ba’ yang disukun).

Bahkan cara baca khubtsi (dengan ba’ disukun) itu lebih banyak di kalangan para ulama hadits sebagaimana dikatakan oleh Al Qodhi Iyadh rahimahullah.

Sedangkan mengenai maknanya, ada ulama yang mengatakan bahwa makna khubtsi (dengan ba’ disukun) adalah gangguan setan,

Sedangkan khobaits adalah maksiat.Jadi, cara baca dengan khubtsi (dengan ba’ disukun) dan khobaits itu lebih luas maknanya dibanding dengan makna yang di awal tadi karena makna kedua berarti meminta perlindungan dari segala gangguan setan dan maksiat.

4. Masuk Dengan Kaki Kiri

Wc / toliet adalah tempat yang najis tempat yang buruk maka hendaklah segala sesuatu apapun yang kau anggap buruk mulailah dengan mendahulukan sebelah kiri termasuk masuk ke wc dan keluar menggunakan kkai kanan.

كَانَ النَّبِىُّصلى الله عليه وسلميُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِى تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِى شَأْنِهِ كُلِّهِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih suka mendahulukan yang kanan ketika memakai sandal, menyisir rambut, ketika bersuci dan dalam setiap  perkara (yang baik-baik). HR. Bukhari no. 168 dan Muslim no. 268, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

5. Tidak Menghadak ke Kiblat / Membelakangi

Hadist yang mengatakan bahwa tidak boleh membuang hajat dengan cara menghadap kiblat atau membelakangi kiblat adalah hadisy yang di ambil dari sahabat Abu Ayyub Al Anshori, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« إِذَا أَتَيْتُمُ الْغَائِطَ فَلاَ تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلاَ تَسْتَدْبِرُوهَا ، وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا » . قَالَ أَبُو أَيُّوبَ فَقَدِمْنَا الشَّأْمَ فَوَجَدْنَا مَرَاحِيضَ بُنِيَتْ قِبَلَ الْقِبْلَةِ ، فَنَنْحَرِفُ وَنَسْتَغْفِرُ اللَّهَ تَعَالَى

Apabila  kalian mendatangi jamban, atau toilet, maka janganlah kalian menghadap kiblat dan membelakanginya. Akan tetapi, hadaplah ke arah timur atau barat.” Abu Ayyub mengatakan, “Dulu kami pernah tinggal di Syam. Kami mendapati jamban kami dibangun menghadap ke arah kiblat. Kami pun mengubah arah tempat tersebut dan kami memohon ampun pada Allah Ta’ala HR. Bukhari no. 394 dan Muslim no. 264.

Hal ini juga berlaku bagi anda yang membuang hajat baik didalam wc yang ada sebuah gedung atau diluar gedung, dalilnya adalah hadist Abu Ayyub Al Anshori diatas, pendapat ini juga di pilih oleh Imam Abu Hanifa, Imam Ahmad, Ibnu Hazm, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Muhammad ‘Ali Asy Sayukani, dan juga pendapat dari Syaikh Ali Basam

6. Dilarang Berbicara ketika didalam Wc

Dalil dilarangnya berbicara ketika berada didalam wc ini adalah dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,

أَنَّ رَجُلاً مَرَّ وَرَسُولُ اللَّهِصلى الله عليه وسلميَبُولُ فَسَلَّمَ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ.

Ada seseorang yang melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau sedang kencing. Ketika itu, orang tersebut mengucapkan salam, namun beliau tidak membalasnya. HR. Muslim no. 370.

Hadist ini juga menjadi dalil bagi Syaikh Ali Basam yang mengatakan bahwa orang yang membuang hajat kemudian berbicara adalah haram hukumnya karena merupakan sesuatu yang Hinda, dan kurangnya menunjukan rasa malu dan merendahkan harga dirinnya ( Murua’ah ) Lihat Tawdhihul Ahkam min Bulughil Marom, Syaikh Ali Basam, 1/315, Darul Atsar, cetakan pertama, tahun 1425 H.

7. Tidak Membuang Hajat di Air Tergenang

Dikala musim hujan seperti saat ini banyak sekali air yang menggenang baik di jalanan ataupun di pinggir-pinggir jalan. HR. Muslim no. 269.

Dan kita di larang untuk membuang hajat di Air yang tergenang damana air tersebut tidak mengalir!

Dalilnya adalah dari sahabat Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata,

أَنَّهُ نَهَى أَنْ يُبَالَ فِى الْمَاءِ الرَّاكِدِ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kencing di air tergenang.

Larangan disini diperuntukan bukan untuk menggenangnya air yang banyak saja melainkan air yang menggenang sedikit juga berlaku larangan ini menurut para ulama syafi’iyah,

8. Memperhatikan Adab Beristinja

Memperhatikan adab beristinja atau membuang kotoran menjadi hal yang penting, contohnnya.

  • Tidak beristinja dengan membersihkan menggunaan tangan kanan,

Dalilnnya adalah  hadits Abu Qotadah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا شَرِبَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَتَنَفَّسْ فِى الإِنَاءِ ، وَإِذَا أَتَى الْخَلاَءَ فَلاَ يَمَسَّ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ ، وَلاَ يَتَمَسَّحْ بِيَمِينِهِ

Jika salah seorang di antara kalian minum, janganlah ia bernafas di dalam bejana. Jika ia buang hajat, janganlah ia memegang kemaluan dengan tangan kanannya. Janganlah pula ia beristinja’ dengan tangan kanannya HR. Bukhari no. 153 dan Muslim no. 267

 

  • Membersihkan kemaluan dengan air

Ibnu ‘Abbas mengatakan,

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- تَوَضَّأَ مَرَّةً مَرَّةً وَنَضَحَ فَرْجَهُ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu dengan satu kali – satu kali membasuh, lalu setelah itu beliau memerciki kemaluannya.

Hal ini tidak harus menggunakan air anda juga bisa menggunakan, beberapa benda asal memenuhi syarat contohnnya.

  1. Benda tersebut suci atau tidak najis
  2. Bukan barang berharga ( Uang Contohnnya )
  3. Bisa menghilangkan najis.

Itulah beberapa adab yang WAJIB! Anda perhatikan ketika ingin membuang hajat atau ingin masuk kedalam wc.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *