Doa Sholat Tahajud

Panduan Sholat Tahajud
Panduan Sholat Tahajud

Bagi seorang muslim Ibadah mendirikan sholat fardhu adalah menjadi hal yang wajib bagi setiap Insan, namun di samping itu adapula ibadah Sunnah yang dimana ibadah ini juga menjadi hal yang setiap muslim harus melakukan jika ingin mendapat ridho sang Ilahi.

Diantara banyaknya sholat sunnah, sholat qiyamul lail atau sholat malam menjadi hal yang paling sulit di lakukan karena pada waktu ini di saat banyak orang yang menggunakan waktu ini untuk tidur, kita sebagai muslim di minta untuk menghidupkan malam, seperti yang telah di jelaskan di dalam firman Allah

QS. Adz Zariat  :

QS Adz Zariat

Karena banyak sekali keutamaannya menjadikan sholat malam menjadi hal yang senantiasa kita rutinkan supaya kita mendapat ridho dan ampunan-Nya.

Diantara sholat malam, sholat tahajud adalah menjadi sebuah kenikmatan yang tiada tara ketika seoarang hamba dapat merasakan bagaimana nikmatnnya bermunajat dengan allah di tengah malam atau pada 1/3 malam terakhir.

Sholat malam atau (Qiyamul Lail) atau juga di sebut dengan sholat Tahajud mayoritas ahli Fiqh mengatakan bahwa sholat tahajud adalah sholat sunnah yang di lakukan setiap hari secara umum setelah bangun tidur.

 

Keutamaan Shalat Tahajud / Shalat Malam

Banyak sekali keutamaan yang telah di sebutkan baik dari Hadist Rosulillah ataupun di dalam Al Qur’an, diantara keutamaan dan kemuliaannya adalah :

1. Sholat Tahajud adalah merupakan sifat orang yang bertakwa kepada Allah dan juga sholat tahajud menjadi kebiasaan calon penghuni surga,

Allah Ta’ala berfirman di dalam Qs. Adz Zariyat: 15-18

Adz Zariyat 15-18

Al Hasan Al Bashri pun mengatakan mengenai ayat ini,

“Mereka bersengaja melaksanakan qiyamul lail (shalat tahajud). Di malam hari, mereka hanya tidur sedikit saja. Mereka menghidupkan malam hingga sahur (menjelang shubuh). Dan mereka pun banyak beristighfar di waktu sahur.”

2. Berbeda antara orang yang mendirikan shalat malam dengan yang tidak.

Allah Ta’ala berfirman,

أَمْ مَنْ هُوَ قَانِتٌ آَنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآَخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? 

Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. ” (QS. Az Zumar: 9).

Yang di maksud qunut pada ayat ini itu bukanlah hanya berdiri berdoa kepada allah melainkan juga di sertai sengan khusu, dan diantara maksud dari ayat ini adalah “Apakah sama antara orang yang berdiri untuk beribadah (di waktu malam) dengan orang yang tidak demikian?!” Jawabannya, tentu saja tidak sama.

3. Sholat Tahajud adalah sebaik-baik sholat sunnah yang di ajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ
Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah –Muharram-. Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.”

Dan Imam An Nawawi -rahimahullah juga mengatakan “Ini adalah dalil yang di ambil dari kesepakatan ulama bahwa sholat sunnah di malam hari lebih baik dari shalat sunnah di siang hari.

Ini juga menjadi dalil bagi para ulama Syafi’iyah diantarannya seperti Abu Ishaq Al Maryzi yang sepaham bahwa shalat malam lebih baik dari shalat sunnah rawatib, namun tidak hanya itu sebagian Ulama Syafi[iyah yang lain berpendapat bahwa shalat sunnah rawatib lebih afdhol atau lebih utama di banding sholat malam karena kemiripannya yang hampir sama dengan sholat wajib.

Namun jika melihat dari hadi nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pendapat pertama masih lebih kuat Wallahu A’lam.

Selain itu Ibun Rajab Al Hambali juga mengatakan bahwa ““Waktu tahajud di malam hari adalah sebaik-baik waktu pelaksanaan shalat sunnah.

Ketika itu hamba semakin dekat dengan Rabbnya. Waktu tersebut adalah saat dibukakannya pintu langit dan terijabahinya (terkabulnya) do’a. Saat itu adalah waktu untuk mengemukakan berbagai macam hajat kepada Allah.”

‘Amr bin Al ‘Ash juga mengatakan, “Satu raka’at shalat sunnah di malam hari lebih baik dari 10 raka’at shalat sunnah di siang hari.” Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Dunya

4. Sholat Tahajud adalah kebiasaan orang yang Sholih

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِيْنَ قَبْلَكُمْ وَهُوَ قُرْبَةٌ إِلَى رَبِّكُمْ وَمُكَفِّرَةٌ لِلسَّيِّئَاتِ وَمَنْهَاةٌ عَنِ الإِثْمِ
Hendaklah kalian melaksanakan qiyamul lail (shalat malam) karena shalat malam adalah kebiasaan orang sholih sebelum kalian dan membuat kalian lebih dekat pada Allah. Shalat malam dapat menghapuskan kesalahan dan dosa.

5. Sebaik-baik orang adalah orang yang mendirikan & melaksanakan sholat tahajud

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan mengenai ‘Abdullah bin ‘Umar,

« نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللَّهِ ، لَوْ كَانَ يُصَلِّى بِاللَّيْلِ » . قَالَ سَالِمٌ فَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ لاَ يَنَامُ مِنَ اللَّيْلِ إِلاَّ قَلِيلاً .
Sebaik-baik orang adalah ‘Abdullah (maksudnya Ibnu ‘Umar) seandainya ia mau melaksanakan shalat malam.” Salim mengatakan, “Setelah dikatakan seperti ini, Abdullah bin ‘Umar tidak pernah lagi tidur di waktu malam kecuali sedikit.”

Keutamaannya yang begitu banyak menjadikan sholat tahajud ini menjadi kenikmatan yang luar biasa yang dapat di rasakan oleh setiap muslim yang dapat mendirikan sholat tahajud sesuai dengan tuntunan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Niat Sholat Tahajud

Dalam hal niat ini sebagaimana kita tahu arti dari niat sendiri adalah “qashdul quluub wa iraadatuhu” yang berarti maksud dan keinginan hati jadi yang di maksud niat ini adalah beramal untuk mendekatkan diri pada Allah, mencari ridha dan PahalNya.

Dan niat sendiri letaknya ada di “qolbun” atau di dalam hati, bahkan kata imam An Nawawi berkata “Tidak ada khilaf dalam hal ini” Ibnu Taimiyyah juga berkata “Niat tidaklah dilafadzkan”

Adapun niat sholat Tahajud yang beredar pada saat ini, kami selaku admin belum berani memposting karena ketidakjelasan sumber, untuk lebih jelas perihal Niat sholat tahajud bisa di simak ceramah soal niat sholat oleh guru kita beliau Buya Yahya :

 

Waktu Pelaksanaan Sholat Tahajud

Waktu pelaksanaan sholat tahajud ini sebagaimana di katakan di awal tadi adalah dilakukan di malam hari, baik di kerjakan di awal malam, pertengahan malam ataupun di akhir malam, karena itu semua pernah di lakukan oleh

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana Anas bin Malik -pembantu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam– mengatakan,

مَا كُنَّا نَشَاءُ أَنْ نَرَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي اللَّيْلِ مُصَلِّيًا إِلَّا رَأَيْنَاهُ وَلَا نَشَاءُ أَنْ نَرَاهُ نَائِمًا إِلَّا رَأَيْنَاهُ
Tidaklah kami bangun agar ingin melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di malam hari mengerjakan shalat kecuali pasti kami melihatnya. Dan tidaklah kami bangun melihat beliau dalam keadaan tidur kecuali pasti kami melihatnya pula.

Dan di jelaskan kembali oleh Ibnu Hajar

إِنَّ صَلَاته وَنَوْمه كَانَ يَخْتَلِف بِاللَّيْلِ وَلَا يُرَتِّب وَقْتًا مُعَيَّنًا بَلْ بِحَسَبِ مَا تَيَسَّرَ لَهُ الْقِيَام
Sesungguhnya waktu shalat malam dan tidur yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbeda-beda setiap malamnya. Beliau tidak menetapkan waktu tertentu untuk shalat. Namun beliau mengerjakannya sesuai keadaan yang mudah bagi beliau.

Waktu Paling Utama Mendirikan Shalat Tahajud

Diantara waktu yang telah di sebutkan tadi ada waktu utama dalam mendirikan sholat tahajud, yaitu pada akhir malam sebagaimana telah di riwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ
Rabb kami -Tabaroka wa Ta’ala- akan turun setiap malamnya ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lalu Allah berfirman, “Siapa yang memanjatkan do’a pada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya. Siapa yang memohon kepada-Ku, maka Aku akan memberinya. Siapa yang meminta ampun pada-Ku, Aku akan memberikan ampunan untuknya

Dan dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَحَبَّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ وَأَحَبَّ الصَّلاَةِ إِلَى اللَّهِ صَلاَةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَكَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا
Sesungguhnya puasa yang paling dicintai di sisi Allah adalah puasa Daud15 dan shalat yang dicintai Allah adalah shalatnya Nabi Daud ‘alaihis salam. Beliau biasa tidur di separuh malam dan bangun tidur pada sepertiga malam terakhir. Lalu beliau tidur kembali pada seperenam malam terakhir. Nabi Daud biasa sehari berpuasa dan keesokan harinya tidak berpuasa.

Tidak hanya ummul-mu’minīn Ibunda Aisyah binti Abu Bakar atau Istri nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam perah di tanya menegnai sholat malamnnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ‘Asiyahpun menjawab :

كَانَ يَنَامُ أَوَّلَهُ وَيَقُومُ آخِرَهُ ، فَيُصَلِّى ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى فِرَاشِهِ ، فَإِذَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ وَثَبَ ، فَإِنْ كَانَ بِهِ حَاجَةٌ اغْتَسَلَ ، وَإِلاَّ تَوَضَّأَ وَخَرَجَ
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa tidur di awal malam, lalu beliau bangun di akhir malam. Kemudian beliau melaksanakan shalat, lalu beliau kembali lagi ke tempat tidurnya. Jika terdengar suara muadzin, barulah beliau bangun kembali. Jika memiliki hajat, beliau mandi. Dan jika tidak, beliau berwudhu lalu segera keluar (ke masjid).

 

Tata Cara Sholat Tahajud Lengkap

Jumlah Raka’at Shalat Tahajud sesuai Sunnah

Jumlah sholat sunnah Tahajud yang sebagaimana telah di katakan oleh ‘Aisyah beliau berkata

مَا كَانَ يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً ، يُصَلِّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّى ثَلاَثًا
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah shalat malam di bulan Ramadhan dan bulan lainnya lebih dari 11 raka’at. Beliau melakukan shalat empat raka’at, maka jangan tanyakan mengenai bagus dan panjangnya. Kemudian beliau melakukan shalat empat raka’at lagi dan jangan tanyakan mengenai bagus dan panjangnya. Kemudian beliau melakukan shalat tiga raka’at.

dan hal ini juga di katakan oleh beliau Ibnu ‘Abbas

كَانَ صَلاَةُ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً . يَعْنِى بِاللَّيْلِ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan shalat malam 13 raka’at. 

dan di katakan pula oleh Zaid bin Kholid Al Juhani, beliau berkata

لأَرْمُقَنَّ صَلاَةَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- اللَّيْلَةَ فَصَلَّى. رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ أَوْتَرَ فَذَلِكَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً.
Aku pernah memperhatikan shalat malam yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pun melaksanakan 2 raka’at ringan. Kemudian setelah itu beliau laksanakan 2 raka’at yang panjang-panjang. Kemudian beliau lakukan shalat 2 raka’at yang lebih ringan dari sebelumnya. Kemudian beliau lakukan shalat 2 raka’at lagi yang lebih ringan dari sebelumnya. Beliau pun lakukan shalat 2 raka’at yang lebih ringan dari sebelumnya. Kemudian beliau lakukan shalat 2 raka’at lagi yang lebih ringan dari sebelumnya. Lalu terakhir beliau berwitir sehingga jadilah beliau laksanakan shalat malam ketika itu 13 raka’at.

Hal ini menandakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan witir dengan 1 raka’at, dan dari sini menunjukan bahawa ada sunnah yang di ajarkan sebelum melaksanakan shalat Tahajud yaitu dengan di buka dengan shalat 2 Raka’at yang ringan (bacaannya pendek) seperti yang di katakn ‘Aisyah :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ لِيُصَلِّىَ افْتَتَحَ صَلاَتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika hendak melaksanakan shalat malam, beliau buka terlebih dahulu dengan melaksanakan shalat dua rak’at yang ringan.”

 

Bacaan Setelah Sholat Tahajud Lengkap

Bacaan doa setelah selesai menunaikan sholat tahajud ini bisa kita lihat di dalam Shahih Al – Bukhari, Jus 24 pada halaman 293 :

Bacaan Setelah Sholat Tahajud Arab

اللهم رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيُّوْمُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ أَنْتَ الْحَقُّ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ الْحَقُّ وَلِقَاؤُكَ الْحَقُّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ وَالسَّاعَةُ حَقٌّ اللهم لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ خَاصَمْتُ وَبِكَ حَاكَمْتُ فَاغْفِرْ لِى مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَأَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ لآ إلَهَ إِلاَّ أَنْتَ

Bacaan Setelah Sholat Tahajud Latin

Allahumma robbana lakal hamd Anta qoyyumus samaawaati wal ardli walakal hamd Anta robbus samaawaati wal ardl wa man fiihinna walakal hamd Anta nuurus samaawaati wal ardl wa man fiihinna Antal haqq wa qouluka haqq wa wa’dakal haqq wa liqaaikal haqq wal jannatu haqq wan naaru haqq was saa’atu haqq. Allahumma laka aslamtu wa bika aamantu wa ‘alaika tawakkaltu wa ilaika khooshomtu wa bika haakamtu faghfir lii maa qoddamtu wa maa akhkhortu wa asrortu wa maa a’lantu wa maa anta a’lamu bihi minnii. Laa ilaaha illa Anta.

Arti Bacaan Setelah Sholat Tahajud

“Ya Allah, Tuhan kami, bagi-Mu pujian. Engkaulah yang menegakkan langit dan bumi, dan bagi-Mu pujian. Engkaulah Tuhan langit, bumi, dan makhluk yang ada padanya, dan bagi-Mu pujian. Engkaulah yang (memberi) cahaya pada langit dan bumi dan makhluk yang ada padanya. Engkau Maha haq, firman-Mu haq, janji-Mu haq, bertemu dengan-Mu haq, surga haq, neraka haq, kiamat haq. Ya Allah, kepada-Mu aku pasrah, dengan-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku berkeluh-kesah, dengan-Mu aku dihakimi. Maka ampunilah dosa-dosaku yang terdahulu dan akan datang, dosa yang aku simpan atau aku perlihatkan, dan dosa yang Engkau lebih tahu ketimbang aku. Tiada tuhan selain Engkau”.

Doa di Sepertiga Malam Terakhir / Tahajud

Anjuran untuk berdoa meminta kepada Allah adalah hal yang menjadi senjata umat muslim, dan salah satu tips berdoa kepada Allah adalah berdoa pada waktu-waktu mustajab ( mudah di ijabah/dikabulkan doa) diantarannya adalah anjuran berdoa di sepertiga malam terakhir.

Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ فِى اللَّيْلِ لَسَاعَةً لاَ يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ

Di malam hari terdapat suatu waktu yang tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah berkaitan dengan dunia dan akhiratnya bertepatan dengan waktu tersebut melainkan Allah akan memberikan apa yang ia minta. Hal ini berlaku setiap malamnya.” (HR. Muslim no. 757)

Di malam hari terdapat suatu waktu yang tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah berkaitan dengan dunia dan akhiratnya bertepatan dengan waktu tersebut melainkan Allah akan memberikan apa yang ia minta. Hal ini berlaku setiap malamnya.” (HR. Muslim no. 757)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَتَنَزَّلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ ، مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

Rabb kita tabaroka wa ta’ala turun setiap malam ke langit dunia hingga tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berkata: ‘Siapa yang berdoa pada-Ku, aku akan memperkenankan doanya. Siapa yang meminta pada-Ku, pasti akan Kuberi. Dan siapa yang meminta ampun pada-Ku, pasti akan Kuampuni’.” (HR. Bukhari no. 6321 dan Muslim no. 758).

Dan dibawakan pula oleh Muhammad bin Isma’il Al Bukhari dalam Bab ‘Doa pada separuh malam’. Imam Nawawi juga menyebutkan judul dalam Shahih Muslim Bab ‘Dorongan untuk berdoa dan berdzikir di akhir malam dan terijabahnya doa saat itu’

Ibnu Hajar menjelaskan, “Bab yang dibawakan oleh Al Bukhari menerangkan mengenai keutamaan berdoa pada waktu tersebut hingga terbit fajar Shubuh dibanding waktu lainnya.” (Fathul Bari, 11/129)

Ibnu Baththol berkata, “Waktu tersebut adalah waktu yang mulia dan terdapat dorongan beramal di waktu tersebut. Allah Ta’ala mengkhususkan waktu itu dengan nuzul-Nya (turunnya Allah). Allah pun memberikan keistimewaan pada waktu tersebut dengan diijabahinya doa dan diberi setiap  yang diminta.” (Syarh Al Bukhari, 19/118)

Dari berbagai pendapat di atas ada suatu pelajaran menarik yang dapat kita ambil dari Imam Al Bukhari. Beliau membawakan Bab dengan judul “Doa pada separuh malam”. Padahal hadits yang beliau bawakan setelah itu berkenaan dengan doa ketika sepertiga malam terakhir. Mengapa bisa demikian?

Hal ini dijelaskan oleh Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan bahwa Al Bukhari mengambil judul Bab tersebut dari firman Allah,

Al-Muzammil (Orang yang Berselimut)

Nah Judul bab tersebut diambil oleh Imam Al Bukhari dari ayat Al Qur’an di atas. Dan didalam hadits sendiri menunjukkan bahwa waktu terijabahnya doa adalah pada waktu sepertiga malam terakhir.

Dengan hal Ini menunjukkan bahwa hendaknya seorang muslim benar-benar memperhatikan waktu tersebut dengan cara ia bersiap-siap sebelum masuk sepertiga malam terakhir yang awal.

Hendaklah setiap hamba bersiap diri dengan kembali pada Allah kala itu agar mendapatkan sebab ijabahnya doa. Setiap muslim hendaklah memperhatikan waktunya di malam dan siang hari dengan doa dan ibadah kepada Allah Ta’ala. (Syarh Al Bukhari,  19/119)

Bolehkan Sholat Tahajud Ketika Kondisi Sulit

Bacaan Qs. Al-'Ankabut

Allah telah mengatakan di dalam Qs. Al-Ankabut ayat 2, dimana yang artinnya “Apakah manusia mengira bahwa meraka akan di biarkan hanya dengan mangatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak di uji ?

Tentu ujian adalah sebuah tanda sayangnya allah kepada Hambanya, maka allah memberi hambannya ujian, maka jika di tanya bolehkah sholat tahajud di masa Sulit jawabannya Harus!  bahkan di dalam firman allah yang lain “jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu”

Tidak hanya itu ‘Ali bin Abi Tholib juga pernah menceritakan

رَأَيْتُنَا لَيْلَةَ بَدْرٍ وَمَا مِنَّا إِنْسَانٌ إِلاَّ نَائِمٌ إِلاَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَإِنَّهُ كَانَ يُصَلِّى إِلَى شَجَرَةٍ وَيَدْعُو حَتَّى أَصْبَحَ وَمَا كَانَ مِنَّا فَارِسٌ يَوْمَ بَدْرٍ غَيْرَ الْمِقْدَادِ بْنِ الأَسْوَدِ

Kami pernah memperhatikan pada malam Badar dan ketika itu semua orang pada terlelap tidur kecuali Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam. Beliau melaksanakan shalat di bawah pohon. Beliau memanjatkan do’a pada Allah hingga waktu Shubuh. Dan tidak ada di antara kami tidak ada yang mahir menunggang kuda selain Al Miqdad bin Al Aswad.18

Bahkan di dalam riwayat yang lain :

يُصَلِّى وَيَبْكِى حَتَّى أَصْبَحَ

Beliau melaksanakan shalat sambil menangis hingga waktu shubuh.19

Referensi Belajar Mengenai Sholat Tahajud

  • HR. Bukhari no. 3569 dan Muslim no. 738.
  • HR. Muslim no. 756, dari Jabir.
  • HR. Bukhari dan Muslim. Sudah lewat takhrijnya.
  • HR. Muslim no. 747.
  • Lihat Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, 1/397, Al Maktabah At Taufiqiyah.
  • Lihat Al Muntaqo Syarh Al Muwatho‘, 1/280, Mawqi’ Al Islam.
  • Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 13/212, Maktabah Al Qurthubah.
  • Shahih. HR. Bukhari no. 1141, An Nasai no. 1627 (ini lafazh An Nasai), At Tirmidzi no. 769. Lihat Shahih wa Dho’if Sunan An Nasai, Syaikh Al Albani, 4/271, Asy Syamilah.
  • HR. Muslim no. 767.
  • HR. Muslim no. 765.
  • Lihat At Tarsyid, Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, hal. 146-149, Dar Ad Diya’.
  • HR.Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758, dari Abu Hurairah.
  • Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, An Nawawi, 6/19, Dar Ihya’ At Turots Al Arobi Beirut, cetakan kedua, 1392.
  • HR. Bukhari no. 1146, dari ‘Aisyah.
  • Sebagaimana dijelaskan oleh penulis Shahih Fiqh Sunnah -Syaikh Abu Malik- bahwa puasa Daud ini boleh dilakukan dengan syarat tidak sampai melalaikan yang wajib-wajib dan tidak sampai melalaikan memberi nafkah kepada keluarga yang menjadi tanggungannya. Lihat Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, 2/138, Al Maktabah At Taufiqiyah.
  • Lihat Al Irwa’ no. 452. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.
  • Lathoif Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 77, Al Maktab Al Islami, cetakan pertama, tahun 1428 H.
  • HR. Ahmad 1/125. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.
  • HR. Muslim no. 746.
  • HR. Bukhari no. 1131 dan Muslim no. 1159, dari ‘Abdullah bin ‘Amr.
  • At Tamhid, Ibnu ‘Abdil Barr, 21/69-70, Wizaroh Umum Al Awqof, 1387 dan Al Istidzkar, Ibnu ‘Abdil Barr, 2/98, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, 1421 H.
  • HR. Ahmad 1/138. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.
  • Lathoif Al Ma’arif, hal. 76.
  • Idem.
  • HR. Bukhari no. 3739, dari Hafshoh.
  • Fathul Bari, Ibnu Hajar Al ‘Asqolani Asy Syafi’i, 3/23, Darul Ma’rifah Beirut, 1379.
  • HR. Bukhari no. 1138 dan Muslim no. 764.
  • HR. Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749, dari Ibnu ‘Umar.
  • Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 7/166, Al Maktab Al Islami.
  • HR. Muslim no. 1163, dari Abu Hurairah.
  • Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, 8/55, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobi, Beirut, 1392
  • Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 12/115.

Banyak sekali keutamaan yang dapat kita rasakan ketika kita mampu mendirikan sholat Tahajud dan juga mendawamkannya sampai akhir hayat kita, semoga kita semua menjadi insan atau makhluk yang senantiasa menjalankan segala perintah Allah سبحانه و تعالى dan juga menjauhi segala larangannya.

Demikian yang dapat saya tuliskan, jika ada baiknya itu datangnya dari Allah dan Rasulnnya jika ada kesalahan itu murni kesalahan penulis, mohon jika berkenan silahkan di ingatkan, dan semoga kita semua selalu berlomba-lomba dalam kebaikan dan mengingatkan dalam kebaikan sehingga kita semua dapat bersua di Jannah-Nya Aamiin Insya allah, terimakasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Ganbar Niat Puasa Ramadhan
Selengkapnya

Niat Puasa Ramadhan

Niat adalah sesuatu yang sakral ketika hendak mengerjakan suatu ibadah kepada Allah. Segala amal perbuatan manusia dinilai dari…
Kumpulan Kata- Kata Bijak
Selengkapnya

Kata- Kata Bijak

Dalam kehidupan manusia, seringkali manusia mersakan jatuh bangun dan mersakan getirnya dalam kehidupan. Ketika manusia dalam keadaan terpuruk,…
niat sholat shubuh
Selengkapnya

Shalat Shubuh

Diantara beberapa waktu yang allah perintahkan umatnnya untuk memperbanyak doa pada waktu itu adalah waktu shubuh, allah berfirman…