Mandi Wajib

Gambar Tata Cara Mandi Wajib

Mandi besar atau mandi wajib atau kita kenal juga sebagai mandi Janabah adalah proses membersihkan diri dari hadast besar atau najis yang menempel di badan kita.

Hal ini penting kita pahami karena hal ini berkaitan dengan ibadah-ibadah yang lainnya, baik fardhu maupun sunnah.

Maka dari itu kita harus paham mengenai tata cara mandi besar ini,

Rukun Mandi Besar

Rukun mandi besar ini ada dua yaitu :

فُرُوْضُ الْغُسْلِ اثْنَانِ:

 النِّيَّةُ

1. Niat

 تَعْمِيْمُ الْبَدَنِ بِالمَاءِ.

2. Menyiram secara merata ke seluruh tubuh, dengan air.

Dalil Mandi Besar

Dalil mandi wajib atau mandi janabah ini tertulis di dalam Al Quran dan Sunnah, diantarannya :

Dalil Mandi Wajib

1. Qs. Al Maidah : 6

وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا

Dan jika kamu junub maka mandilah …

Note : Dalam ayat diatas tidak dikhususkan satu anggota tubuh atau anggota yang lainnya, tetapi Allah menjadikan bersuci untuk seluruh anggota badan.

2. HR. An Nasa-i, no. 247

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menceritakan tata cara mandi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جَسَدِهِ كُلِّهِ

Kemudian beliau mengguyur air pada seluruh badannya.” (HR. An Nasa-i, no. 247. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

3. Fath Al-Bari, 1: 361

Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan yang di tulis di kitab Fat Al-bari bahwa :

هَذَا التَّأْكِيد يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ عَمَّمَ جَمِيع جَسَدِهِ بِالْغُسْلِ

“Penguatan makna dalam hadits ini menunjukkan bahwa ketika mandi beliau mengguyur air ke seluruh tubuh.”

Tata Cara Mandi Besar

Tata cara mandi wajib ini tertulis didalam 2 hadis, diantara tata cara dan hadistnya adalah :

1. Hadist dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ بَدَأَ فَغَسَلَ يَدَيْهِ ، ثُمَّ يَتَوَضَّأُ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلاَةِ ، ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِى الْمَاءِ ، فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُولَ شَعَرِهِ ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ غُرَفٍ بِيَدَيْهِ ، ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi junub, beliau memulainya dengan mencuci kedua telapak tangannya.

Kemudian beliau berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Lalu beliau memasukkan jari-jarinya ke dalam air, lalu menggosokkannya ke kulit kepalanya, kemudian menyiramkan air ke atas kepalanya dengan cidukan kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengalirkan air ke seluruh kulitnya.”

(HR. Bukhari, no. 248 dan Muslim, no. 316)

Apabila tata cara mandi wajib diatas berdasarkan hadist dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha akan seperti ini urutannya :

  1. Mencuci telapak tangan.
  2. Berwudhu (sebagaimana berwudhu ketika hendak sholat).
  3. Membersihkan sela sela jari di dalam air.
  4. Menyiram dan menggosok kulit kepala.
  5. Menyiram kembali kepalanya hingga tiga kali.
  6. Kemudian mengalirkan air ke seluruh tubuh.

2. Hadist dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَتْ مَيْمُونَةُ وَضَعْتُ لِرَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مَاءً يَغْتَسِلُ بِهِ ، فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ ، فَغَسَلَهُمَا مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا ، ثُمَّ أَفْرَغَ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ ، فَغَسَلَ مَذَاكِيرَهُ ، ثُمَّ دَلَكَ يَدَهُ بِالأَرْضِ ، ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ ثُمَّ غَسَلَ رَأْسَهُ ثَلاَثًا ، ثُمَّ أَفْرَغَ عَلَى جَسَدِهِ ، ثُمَّ تَنَحَّى مِنْ مَقَامِهِ فَغَسَلَ قَدَمَيْهِ

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Maimunah radhiyallahu ‘anha mengatakan, “Aku pernah menyediakan air mandi untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Kemudian beliau menuangkan air pada kedua tangannya dan mencuci keduanya dua kali-dua kali atau tiga kali.

Kemudian dengan tangan kanannya beliau menuangkan air pada telapak tangan kirinya, kemudian beliau mencuci kemaluannya.

Setelah itu beliau menggosokkan tangannya ke tanah. Kemudian beliau berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung.

Kemudian beliau membasuh muka dan kedua tangannya. Kemudian beliau membasuh kepalanya tiga kali dan mengguyur seluruh badannya.

Setelah itu beliau bergeser dari posisi semula lalu mencuci kedua telapak kakinya (di tempat yang berbeda).”

(HR. Bukhari, no. 265 dan Muslim, no. 317)

Apabila tata cara mandi wajib diatas berdasarkan hadist dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma akan seperti ini urutannya :

  1. Menyiram telapak tangan 2 atau 3 kali.
  2. Mencuci kemaluan dengan kaki kiri.
  3. Mencuci tangan kembali.
  4. Berkumur dan memasukan air kedalam hidung selayaknya berwudhu.
  5. Membersihkan muka dan kedua tangan.
  6. Membasuh kepala 3x.
  7. Menyiramkan air ke seluruh tubuh.
  8. Membersihkan kedua telapak kaki.
Note : Tata cara mandi janabah atau mandi besar diatas bisa kita gunakan atau diperbolehkan, baik kita mengambil hadist yang disampaikan oleh ‘Aisyah ataupun dari Ibnu ‘Abbas.

Cara Mandi Besar setelah Haidh

Apakah sama tata cara mandi besar seorang laki laki dengan wanita yang telah selesai dari masa Haidnya ?

Hal ini tentu berbeda, bahkan tata cara mandi besar bagi wanita yang telah selesai masa haidnya diabadikan dalam sebuah hadist yang berbunyi :

أَنَّ أَسْمَاءَ سَأَلَتِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ غُسْلِ الْمَحِيضِ فَقَالَ « تَأْخُذُ إِحْدَاكُنَّ مَاءَهَا وَسِدْرَتَهَا فَتَطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ دَلْكًا شَدِيدًا حَتَّى تَبْلُغَ شُئُونَ رَأْسِهَا ثُمَّ تَصُبُّ عَلَيْهَا الْمَاءَ. ثُمَّ تَأْخُذُ فِرْصَةً مُمَسَّكَةً فَتَطَهَّرُ بِهَا ». فَقَالَتْ أَسْمَاءُ وَكَيْفَ تَطَهَّرُ بِهَا فَقَالَ « سُبْحَانَ اللَّهِ تَطَهَّرِينَ بِهَا ». فَقَالَتْ عَائِشَةُ كَأَنَّهَا تُخْفِى ذَلِكَ تَتَبَّعِينَ أَثَرَ الدَّمِ. وَسَأَلَتْهُ عَنْ غُسْلِ الْجَنَابَةِ فَقَالَ « تَأْخُذُ مَاءً فَتَطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُورَ – أَوْ تُبْلِغُ الطُّهُورَ – ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ حَتَّى تَبْلُغَ شُئُونَ رَأْسِهَا ثُمَّ تُفِيضُ عَلَيْهَا الْمَاءَ »

“Asma’ bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang mandi wanita haidh.

Maka beliau bersabda, “Salah seorang dari kalian hendaklah mengambil air dan daun bidara, lalu engkau bersuci, lalu membaguskan bersucinya.

Kemudian hendaklah engkau menyiramkan air pada kepalanya, lalu menggosok-gosoknya dengan keras hingga mencapai akar rambut kepalanya.

Kemudian hendaklah engkau menyiramkan air pada kepalanya tadi. Kemudian engkau mengambil kapas bermisk, lalu bersuci dengannya.

Lalu Asma’ berkata, “Bagaimana dia dikatakan suci dengannya?” Beliau bersabda, “Subhanallah, bersucilah kamu dengannya.”

Lalu Aisyah berkata–seakan-akan dia menutupi hal tersebut–, “Kamu sapu bekas-bekas darah haidh yang ada (dengan kapas tadi)”.

Dan dia bertanya kepada beliau tentang mandi junub, maka beliau bersabda, ‘Hendaklah kamu mengambil air lalu bersuci dengan sebaik-baiknya bersuci, atau bersungguh-sungguh dalam bersuci kemudian kamu siramkan air pada kepala, lalu memijatnya hingga mencapai dasar kepalanya, kemudian mencurahkan air padanya’.”

(HR. Bukhari no. 314 dan Muslim no. 332).

Dari hadist diatas kita dapat melihat perbedaan mandi wajib setelah haidh dan juga mandi junub, yang membedakan mandi wajib setelah haidh dan manjdi junub adalah :

  1. Mandi Haidh di tambah mengunakan sabun atau pembersih lainnya.
  2. Melepas kepangan rambut sehingga air mengalir hingga ke pangkal rambut.

Mandi Besar dengan Air Hangat

Bolehkan mandi besar atau mandi wajib dengan air hangat ?

Dalam hal ini tidak ada perbedaan pendapat, karena kita diberikan kelonggaran untuk memilih menggunakan air hangat atau air dingin.

Karena islam adalah agama yang memberikan kemudahan bukan ingin menyulitkan sebagaimana firman allah di dalam Qs. Al Baqarah : 185 :

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Niat Mandi Wajib

Perbedaan mandi besar dengan mandi biasa adalah pada niat dan tata cara melakukannya.

Dan diantara niat mandi janabah yang mashur adalah :

Gambar Niat Mandi Wajib
GAMBAR DOA MANDI BESAR

Dalam madzhab Syafi’i sebagaimana yang banyak berkemban dinegara kita Indonesia ini, niat harus dibacakan bersamaan dengan air pertama yang menyiram tubuh kita.

Perlu kita pahami bahwa memberihkan diri dari berbagai macam najis dengan cara mandi besar ini adalah hal yang baik dilakukan.

Karena dengan kita terbebas dari najis, dari hadast merupakan salah satu dari syarat sahnya shalat, maka itu penting kita untuk mengetahui ini semua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *