Shalat

Shalat adalah suatu kewajiban umat muslim yang dimana kita di perintahkan untuk menjalankan shalat minimal 17 rakaat dalama 1 hari/ 24 jam.

Kenapa ? karena shalat adalah tiang agama, yang dimana kita di wajibkan untuk senantiasa memperkokoh tiang agama setiap hari.

 

Sejarah di Perintahkannya Shalat

Shalat merupakan ibadah yang telah ada sejak dulu bahkan nabi-nabi yang di utus oleh Allah kemuka bumi itu semua menjalankan dan mendirikan shalat tak terkecuali dengan baginda kita Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wassalam

Fakta dimana shalat telah di kerjakan oleh para nabi terdahulu dapat di lihat di dalam tulisan Almaghfurlah Muhammad Said Ramadhan al-Buthi di dalam kitab Fiqh Sirah Nabawiyah (Damaskus : Dar al-fikr, 1426 H), hal. 109

وكان عليه السلام قبل مشروعية الصلاة يصلي ركعتين صباحا ومثليهما مساء كما كان يفعل إبراهيم عليه السلام.
“Sebelum pensyariatan shalat, nabi terdahulu melakukan shalat masing-masing 2 rakaat di pagi dan sore hari sebagaimana dilakukan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalâm.”
Perihal mengenai shalat yang juga telah di lakukan oleh orang terdahulu atau nabi terdahulu juga di perkuat dengan firman allah di dalam Qs. Maryam ayat 55
shalat istikharah
Dan juga di ayat 31
وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا
“Dan Dia (Allah) memerintahkan kepadaku (Isa) (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;”

Perintah Shalat 5 Waktu

Kemudian sebagaimana kita ketahui shalat adalah sebuah tiang agama dan kita di perintahkan untuk menunaikan shalat minimal 17 rakaat dalam 1 hari, yaitu dengan format 2 rakaat shalat shubuh, 4 rakaat shalat dhuhur. 4 rakaat shalat ashar, 3 rakaat shalat maghrib dan juga 4 rakaat shalat isya.

Lalu darimanakah perintah tersebut ?

Perintah mendirikan shalat 5 waktu ini di berikan dari Allah kepada nabi kita tercinta Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wassalam pada saat perjalanan Isra & Mi’raj, yaitu sebuah perjalanan yang di lakukan baginda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha lalu di lanjutkan ke Sidratul Muntaha atau berada di lapisan langit ke tujuh, masya allah.

Perjalanan yang begitu luar biasa inilah yang menghadirkan hadiah yang juga begitu luar biasa yaitu shalat 5 waktu, seperti yang terekam di dalam hadist nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari (No. 342) dan Muslim (No.163)

أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – قال: “فرج عن سقف بيتي وأنا بمكة، فنزل جبريل .. ثم أخذ بيدي فعرج بي إلى السماء … ففرض اللهعلى أمتي خمسين صلاة … فراجعته فقال: هي خمس وهي خمسون لا يبدل القول لدي”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Loteng rumahku terbuka saat aku berada di Makkah, kemudian Jibril turun kemudian ia memegang tanganku dan mengangkatku ke langit kemudian Allah memfardlukan shalat 50 waktu pada ummat maka aku kembali lagi, dan Dia (Allah) berfirman: “Shalat 5 waktu itulah (pahalanya sama dengan) shalat 50 waktu, tidak akan tergantikan lagi pernyataanku”.

Kedudukan Shalat dalam Islam / Keutamaan Shalat

Begitu besar kedudukan shalat di dalam agama islam, yang dimana perintah shalat yang di berikan allah kepada nabi kita juga menjadi peristiwa yang sangat luar biasa, dan diantara dalil-dalil yang di utarakan kali ini sudah bisa mewakilkan betapa muliannya kedudukan shalat di dalam umat islam.

1. Shalat adalah Tiang Agama

Islam seseorang tidak akan tegak jika iya tidak mendirikan shalat, sebagaimana di dalam hadist dari sahabat yang mulisa Mu’adz

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ

“Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat.” (HR. Tirmidzi no. 2616 dan Ibnu Majah no. 3973. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Didalam hadist di umpakan muliannya shalat itu bagaikan tiang agama, jika bangunan tidak ada tiangnnya pasti akan ambruk, sebagaimana islam jika tidak mendirikan shalat maka ambruklah islam dan keimanannya. Nauzubillahiminzalik

2. Amalan yang Pertama Kali akan di HISAB!

Setiap amalan anak adam atau seseorang pastilah akan di hisab di hari kemudian nanti, dan diantara amalan itu ada amalan yang pertama kali akan di hisab yaitu adalah Shalat

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ الصَّلَاةُ، وَأَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ فِي الدِّمَاءِ

“Perkara yang pertama kali dihisab adalah shalat. Sedangkan yang diputuskan pertama kali di antara manusia adalah (yang berkaitan dengan) darah.” (HR. An-Nasa’i no. 3991. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani).

Dan juga di sebutkan pula di dalam riwayat yang lainnya, ”Kemudian zakat akan (diperhitungkan) seperti itu. Kemudian amalan lainnya akan dihisab seperti itu pula.”

(HR. Abu Daud no. 864, Ahmad 2: 425, Hakim 1: 262, Baihaqi, 2: 386. Al Hakim mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih dan tidak dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim, penilaian shahih ini disepakati oleh Adz Dzahabi)

3. Perkara Terakhir yang akan hilang dari Manusia

Perkara terakhir yang di sampaikan oleh Rasulullah yang akan hilang adalah shalat sebagimana di jelaskan di dalam hadist dari Abu Umamah Al Bahili, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيُنْقَضَنَّ عُرَى الإِسْلاَمِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِى تَلِيهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضاً الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلاَةُ

“Tali ikatan Islam akan putus seutas demi seutas. Setiap kali terputus, manusia bergantung pada tali berikutnya. Yang paling awal terputus adalah hukumnya, dan yang terakhir adalah shalat.” (HR. Ahmad 5: 251)

Hal ini juga di sampaikan pula oleh Zaid bin Tsabit, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَوَّلُ مَا يَرْفَعُ مِنَ النَّاسِ الأَمَانَةُ وَ آخِرُ مَا يَبْقَى مِنْ دِيْنِهِمْ الصَّلاَةُ

“Yang pertama kali diangkat dari diri seseorang adalah amanat dan yang terakhir tersisa adalah shalat.” (HR. Al Hakim At Tirmidzi).

4. Shalat adalah wasiat Terakhir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Salah satu diantara banyak wasiat yang baginda Muhammad sampaikan adalah shalat, dan perihal shalat ini menjadi akhir dari wasiat beliau sebagaimana di jelaskan di dalam hadist yang di riwayatkan oleh Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa di antara wasiat terakhir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الصَّلاَةَ الصَّلاَةَ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

“Jagalah shalat, jagalah shalat, dan apa yang kalian miliki dari budak-budak kalian.”

5. Allah Memuji Orang yang senatiasa Mengerjakan Shalat

Pujian adalah sebuah booster bagi setiap manusia, namun pujian juga sebuah lemparan kerikil bagi orang yang di puji, betul jika itu yang memuji adalah manusia.

Tapi ? Tidak dengan shalat, karena orang-orang yang mendirikan shalat itu di puji oleh allah sebagaimana firman allah didalam Qs. Maryam ayat 54-55

Qs. Maryam ayat 54 sampai 55

6. Allah Mencela Orang-orang yang malas-malasan dalam menunaikan Shalat

Jika salah satu dari keutamaan shalat adalah mendapat pujian dari اَللهُ سبحانه و تعالى, tak terkecuali dengan orang-orang yang bermalas-malasan dalam mendirikan shalat, yaitu mendapat celaan dari اَللهُ سبحانه و تعالى. Nauzubillahiminzalik

Hal ini sebagaimana firman allah di dalam Qs. Maryam : 59

QS. Maryam 59

Dan didalam ayat yang lain juga disebutkan, mengenai orang-orang yang malas dalam menunaikan Shalat.

QS. An Nisa 142

Sebagaimana telah dijelaskan di atas mengenai keutamaan dari shalat, tentu kita sebagai umat muslim yang beriman kepada allah dan percaya bahwa baginda Muhammad adalah utusan allah tidak ingin sekalipun didalam hidup ini tertinggal atau tidak melaksanakan shalat.

Diantara keutamaan shalat ini, ada yang namannya shalat wajib dan sunnah, dan tentu kita tahu menjalankan perihal yang wajib pahalannya jauh lebih banyak di banding yang sunnah tapi bukan berarti dengan ini kita meremehkan hal yang sunnah ya, karena wajib dan sunnah itu satu kesatuan yang dimana jika kita mengikuti keduannya, niscaya hidup kita menjadi tenang dan bahagia.

 

Kautamaan Shalat Wajib

Sebagaimana Al Qur’an dan Sunnah yang saling melengkapi, sholat wajib dan sunnah juga menjadi hal yang tidak mungkin bisa di pisahkan, diantara keutaman keduannya adalah.

1. Shalat adalah Sebaik-baiknnya Amalan setelah 2 Kalimat syahadat

Hal ini tertuang didalam hadist muttafaqun ‘alaih dibawah ini.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَىُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ قَالَ « الصَّلاَةُ لِوَقْتِهَا ». قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَىٌّ قَالَ « بِرُّ الْوَالِدَيْنِ ». قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَىٌّ قَالَ « الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, amalan apakah yang paling afdhol?” Jawab beliau, “Shalat pada waktunya.” Lalu aku bertanya lagi, “Terus apa?” “Berbakti pada orang tua“, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Lalu apa lagi”, aku bertanya kembali. “Jihad di jalan Allah“, jawab beliau. (HR. Bukhari no. 7534 dan Muslim no. 85)

2. Shalat 5 Waktu ibarat mencuci Dosa

Mendirikan shalat 5 waktu ibarat kita sedang mencuci diri kita dari dosa sebagaimana hadist yang di sampaikan oleh sahabat yang mulia Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,  beliau pernah mendengar Rasulullah ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ ، يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا ، مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ » . قَالُوا لاَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا . قَالَ « فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ ، يَمْحُو اللَّهُ بِهَا الْخَطَايَا

“Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau berkata, “Maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667)

Dan hadist di atas juga diperkuat dengan hadist yang di sampaikan oleh sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang berbunyi :

مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ كَمَثَلِ نَهَرٍ جَارٍ غَمْرٍ عَلَى بَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ ». قَالَ قَالَ الْحَسَنُ وَمَا يُبْقِى ذَلِكَ مِنَ الدَّرَنِ

“Permisalan shalat yang lima waktu itu seperti sebuah suangi yang mengalir melimpah di dekat pintu rumah salah seorang di antara kalian. Ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali.” Al Hasan berkata, “Tentu tidak tersisa kotoran sedikit pun (di badannya).” (HR. Muslim no. 668).

3. Shalat adalah cahaya di dunia dan akhirat

Kemulian shalat 5 waktu lainnya adalah di ambil dari hadist nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang di sampaikan dari ‘Abdullah bin ‘Amr bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُوراً وَبُرْهَاناً وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُورٌ وَلاَ بُرْهَانٌ وَلاَ نَجَاةٌ وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَأُبَىِّ بْنِ خَلَفٍ

“Siapa yang menjaga shalat lima waktu, baginya cahaya, bukti dan keselamatan pada hari kiamat. Siapa yang tidak menjaganya, maka ia tidak mendapatkan cahaya, bukti, dan juga tidak mendapat keselamatan. Pada hari kiamat, ia akan bersama Qorun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Kholaf.” (HR. Ahmad 2: 169. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

 

Kautamaan Shalat Sunnah

Untuk melengkapi yang wajib pastilah ada sunnah, seperti keutamaan shalat sunnah yang dimana dengan mengerjakan itu kita dapat menyempurnakan shalat kita yang wajib.

1. Shalat sunnah sebagai penutup kekurangan pada shalat wajib

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمُ الصَّلاَةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلاَئِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِى صَلاَةِ عَبْدِى أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِى مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِى فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ

Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab pada manusia di hari kiamat nanti adalah shalat. Allah ‘azza wa jalla berkata kepada malaikat-Nya dan Dia-lah yang lebih tahu,

“Lihatlah pada shalat hamba-Ku. Apakah shalatnya sempurna ataukah tidak? Jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna. Namun jika dalam shalatnya ada sedikit kekurangan, maka Allah berfirman:

Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah. Jika hamba-Ku memiliki amalan sunnah, Allah berfirman: sempurnakanlah kekurangan yang  ada pada amalan wajib dengan amalan sunnahnya.” Kemudian amalan lainnya akan diperlakukan seperti ini.”

(HR. Abu Daud no. 864, Ibnu Majah no. 1426 dan Ahmad 2: 425. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

2. Dihapuskannya Dosa & di tinggikan derajatnya

dari sahabat yang mulia Tsauban beliau pernah mendengar dari Rasulullah ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda,

عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

“Hendaklah engkau memperbanyak sujud (perbanyak shalat) kepada Allah. Karena tidaklah engkau memperbanyak sujud karena Allah melainkan Allah akan meninggikan derajatmu dan menghapuskan dosamu’.” Lalu Ma’dan berkata, “Aku pun pernah bertemu Abu Darda’ dan bertanya hal yang sama. Lalu sahabat Abu Darda’ menjawab sebagaimana yang dijawab oleh Tsauban padaku.” (HR. Muslim no. 488).

3. Dekat dengan Rasul  shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga

Hadist mulia yang di ambil dari sahabat yang mulia pula Rabiah bin Ka’ab Al-Aslami –radhiyallahu ‘anhu– dia berkata,

كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ فَقَالَ لِي سَلْ فَقُلْتُ أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ قَالَ أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ قُلْتُ هُوَ ذَاكَ قَالَ فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

“Saya pernah bermalam bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku membawakan air wudhunya dan air untuk hajatnya. Maka beliau berkata kepadaku, “Mintalah kepadaku.” Maka aku berkata, “Aku hanya meminta agar aku bisa menjadi teman dekatmu di surga.” Beliau bertanya lagi, “Adakah permintaan yang lain?” Aku menjawab, “Tidak, itu saja.” Maka beliau menjawab, “Bantulah aku untuk mewujudkan keinginanmu dengan banyak melakukan sujud (memperbanyak shalat).” (HR. Muslim no. 489)

 

Hukuman Bagi yang Meninggalkan Shalat

Masya allah begitu banyak sekali kemulian orang-orang yang mendirikan shalat bukan, lalu masihkan masihkah kita mau melalaikan apalagi sampai tidak mendirikan shalat ?

Sepertinnya tidak mungkin, karena Rasulullah pun telah mengabarkan mengenai Orang-orang yang meninggalkan shalat, diantarannya di hadist yang di ambil dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu, beliau mendengar Rasulillah bersabda :

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

“(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 257).

Dan Imam Nawawi Rahimahullah pun juga menuturkan “Apabila seseorang meninggalkan shalar, maka tidak ada antara dirinnya dan kesyirikan itu pembatas, bahkan ia akan terjatuh dalam syirik” (Syarh Shahih Muslim, 2:64)

 

Rukun-rukun Shalat

Setelah kita belajar mengenai perintah didirikannya shalat selama 5 waktu dalam sehari, keutamaan shalat, hukuman bagi orang-orang yang tidak shalat sekarang mari kita bahas mengenai Rukun-rukun yang harus ada pada shalat.

Diantara rukun-rukun shalat itu ada 2 bentuk, yaitu :

Pertama : Meninggalkan shalat secara sengaja ( Dalam hal ini kata para ulama shalatnnya batal atau tidak sah)

Kedua : Meninggalkan karena lupa atau tidak tau, namun hal ini juga harus memenuhi 3 unsur atau 3 rincian

  1. Jika sekirannya mampu untuk mengejar atau mendapati rukun tersebut maka wajib untuk melakukannya kembali, berdasarkan kesepakatan ulama.
  2. Namun jika anda tidak mampu mendapatinnya lagi, maka shalatnnya menjadi batal menurut ulama-ulama di kalangan Hanfiyah. Sedangkan Jumhur ulama atau mayoritas ulama berpendapat bahwa raka’at yang ketinggalan menjadi hilang.
  3. Jika rukun yang di tinggal adalah takbiratul ihram, maka shalatnnya harus di ulang dari awal dengan benar.

Rukun Shalat 

1. Berdiri (Bagi yang mampu berdiri)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Hadist Shalat Berdiri
temenngaji.com

Shalatlah dalam keadaan berdiri. Jika tidak mampu, kerjakanlah dalam keadaan duduk. Jika tidak mampu lagi, maka kerjakanlah dengan tidur menyamping.

2.  Takbratul Ihram 

Yang dimaksud takbiratul ihram disini adalah mengucap takbi “allahu akbar”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مِفْتَاحُ الصَّلاَةِ الطُّهُورُ وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ

Pembuka shalat adalah thoharoh (bersuci). Yang mengharamkan dari hal-hal di luar shalat adalah ucapan takbir. Sedangkan yang menghalalkannya kembali adalah ucapan salam.

3. Membaca Surah Al Fatihah (Pada setiap raka’at)

Membaca surah al fatihah adalah sesuatu yang wajib dalam mendirikan shalat, sebagai mana hadist nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

Tidak ada shalat (artinya tidak sah) orang yang tidak membaca Al Fatihah.

4. Ruku’ dengan Thuma’ninah

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan pada orang yang jelek shalatnya (sampai ia disuruh mengulangi shalatnya beberapa kali karena tidak memenuhi rukun),

ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا

Kemudian ruku’lah dan thuma’ninahlah ketika ruku’.

Lalu apa yang dimaksud dengan Thuma’ninah ? yaitu adalah keadaan dimana diri ini tenang dalam menunaikan ibadah, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 
yang mengatakan :

لاَ تَتِمُّ صَلاَةُ أَحَدِكُمْ حَتَّى يُسْبِغَ  … ثُمَّ يُكَبِّرُ فَيَرْكَعُ فَيَضَعُ كَفَّيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ حَتَّى تَطْمَئِنَّ مَفَاصِلُهُ وَتَسْتَرْخِىَ

Shalat tidaklah sempurna sampai salah seorang di antara kalian menyempurnakan wudhu, … kemudian bertakbir, lalu melakukan ruku’ dengan meletakkan telapak tangan di lutut sampai persendian yang ada dalam keadaan thuma’ninah dan tenang.

Namun adapula ulama yang mengatakan kalau Thuma’ninah adalah sekedar berdzikir yang wajib dalam ruku’.

5. I’tidal dengan Thuma’ninah

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan pada orang yang jelek shalatnya,

ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا

Kemudian tegakkanlah badan (i’tidal) dan thuma’ninalah.

6. Sujud dengan Thuma’ninah

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan pada orang yang jelek shalatnya,

ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا

Kemudian sujudlah dan thuma’ninalah ketika sujud.

Dalam menunaikan sujud ini hendaklan di lakukan dengan tujuh anggota badan yaitu :

  • Telapak tangan kanan dan kiri
  • Lutut kanan dan kiri
  • Ujung kaki kanan dan kiri
  • Dahi sekaligus hidung

Hal ini di ambil dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الْجَبْهَةِ – وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ – وَالْيَدَيْنِ ، وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ

Aku diperintahkan bersujud dengan tujuh bagian anggota badan: [1] Dahi (termasuk juga hidung, beliau mengisyaratkan dengan tangannya), [2,3] telapak tangan kanan dan kiri, [4,5] lutut kanan dan kiri, dan [6,7] ujung kaki kanan dan kiri.

7. Duduk di antara dua sujud secara Thuma’ninah

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا

Kemudian sujudlah dan thuma’ninalah ketika sujud. Lalu bangkitlah dari sujud dan thuma’ninalah ketika duduk. Kemudian sujudlah kembali dan thuma’ninalah ketika sujud.

8. Salam

 

Niat Shalat

Hukum melafadzkan Niat saat hendak melakukan ibadah merupakan sesuatu yang banyak menimbulkan perbedaan pendapat. Lalu manakah yang benar di lafadz kan atau tidak.

Untuk lebih lengkapnnya anda bisa membaca artikel Pentingkah Niat dalam Ibadah ?

Semoga dapat bermanfaat dan menambah referensi teman-teman, Jazakhallah Khair.

Referensi

Shalatul Mu’min, Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Abi Wahf Al Qohthoni, terbitan Maktabah Malik Fahd, cetakan ketiga, tahun 1431 H.

HR. Bukhari no. 1117, dari ‘Imron bin Hushain.

HR. Abu Daud no. 618, Tirmidzi no. 3, Ibnu Majah no. 275. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Al Irwa’ no. 301.

HR. Bukhari no. 756 dan Muslim no. 394, dari ‘Ubadah bin Ash Shomit

HR. Bukhari no. 793 dan Muslim no. 397.

HR. Ad Darimi no. 1329. Syaikh Husain Salim Asad mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Gambar Dzikir Petang
Selengkapnya

Dzikir Petang

Dzikir Petang, Pada artikel sebelumnnya kami telah membahas mengenai Dzikir Pagi, dari mulai keutamaannya dan doa-doa dzikir pagi,…
Kumpulan Kata- Kata Bijak
Selengkapnya

Kata- Kata Bijak

Dalam kehidupan manusia, seringkali manusia mersakan jatuh bangun dan mersakan getirnya dalam kehidupan. Ketika manusia dalam keadaan terpuruk,…
Gambar Doa Ketika Hujan
Selengkapnya

Doa Hujan

Pada artikel ini dibahas mengenai hadist hujan dan doa √ Doa Ketika Hujan √ Doa Ketika Hujan Deras…